Kabar Rakosa

Sampaikan informasi dan tips tentang kebutuhan masyarakat ke 0817275800, twitter @rakosafm.....

ULANG TAHUN KE 25 RIFKA ANNISA MENYELENGGARAKAN SARASEHAN “NAPAK TILAS KERJA JEJARING DALAM MENGHADIRKAN LAYANAN TERPADU BAGI PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN”

Posted by Admin Jumat, 09 November 2018 Berita 0 Comments
ULANG TAHUN KE 25 RIFKA ANNISA MENYELENGGARAKAN SARASEHAN “NAPAK TILAS KERJA JEJARING DALAM MENGHADIRKAN LAYANAN TERPADU BAGI PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN”

Dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke 25 Rifka Annisa dan sekaligus mengadakan Sarasehan “Napak Tilas Kerja Jejaring dalam Menghadirkan Layanan Terpadu bagi Perempuan Korban Kekerasan” yang menghadirkan empat narasumber yaitu bapak Arifnasirudin, ibu Dr. Y, Sari Murni W.,SH.M.Hum, bapak M. Lutfi Hamid, dan bapak Nur Hashim. Dalam acara ini berikut susunan acara yang dimulai dari pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sambutan dari Direktur Rifka Annisa, Pemotongan tumpeng, acara Sarasehan, Work shop, sejarah dan penyusunan rekomodasi. Pemberikan sambutan oleh Ibu Hartini selaku direktur Rifka Annisa yang mengatakan bahwa ulang tahun Rifka Annisa ke 25 yang jatuh pada tanggal 26 Agustus 1993 dengan mengambil tema Napak Tilas Kerja Jejaring sebagai sebagian dari refreksi bahwa selama ini tidak bekerja sendiri.

Dalam perayaan ke 25 ini bersama dengan stakeholder yang sudah Bersama-sama untuk memajukan layanan yang berkualitas bagi korban-korban kekerasan. Tidak hanya sebagai layanan yang disedikan bagi perempuan semata, melainkan sebagai percontohan bagi layanan berkualitas di provinsi yang lainnya. Sehingga form diskusi ini dilakukan untuk bersama-sama memberikan saran agar lebih dapat memperbaiki kualitas dan di harapkan bisa menjadi sumbangsih bagi kerja-kerja secara nasional di Indonesia. Tahun 2016 tercatat 259 ribu kasus yang tercatat di Badan Pusat Statistik Nasional, di jumlah 255.548 di antaranya berasal dari pengadilan agama. Sehingga 340 saja yang terkoneksi dari Lembaga layanan, sehingga banyak kasus yang tidak mendapat layanan sama sekali. Dalam kinerja dalam pelayanan kasus ini sistemnya seperti terburu-buru sehingga tidak akan selesai, hal yang perlu dilakukan adalah dilakukannya pencegahan. Sehingga kita bisa bersama-sama dalam melakukan pencegahan dilingkuhan kita masing-masing secara serentak, harapannya kedepan akan semakin pasif lagi kerja-kerja penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Dalam form ini dibuka dengan narasumber pertama bapak Arifnasirudin perwakilan dari Bandan Pemberi Perwakilan Perempuan dan Masyarakat, akan menyampaikan peluang dan tantangan perkembangan mekanisme penanganan kasus khusunya di Yogyakarta. Forum penanganan korban kekerasan perempuan dan anak provinsi DIY (FPK2PA), sekarang bernama FPKK DIY merupakan kemajuan yang dimiliki DIY dalam hal pemberian layanan. Fungsi FPKK yaitu koordinatif yang membantu keja-kerja pelayanan bagi para anggotanya, namun masih banyaknya masalah-masalah di dalam penanganan kasus yang muncul dalam setiap pertemuan koordinasi FPKK. Masalah yang dihadapi yaitu perbedaan mekanisme layanan yang belum dipahami oleh anggota forum, perbedaan perspektif dalam merespon korban dan pendekatan.

Narasumber yang kedua ada ibu Sarimurti dari Form Perlindungan Korban Kekerasan, akan menyampaikan peran FPKK DIY dalam menghadirkan layanan terpadu dan berkualitas.  Sistem perlindungan yang terbagi menjadi 3 yaitu pemerintahan yang memiliki system yang sudah siap dan pembiayaan tidak setengah-setengah, masyarakat IC. LSM yang melakukan pengadaan layanan dan jejaring, serta keluarga merupakan ketahanan bagi sebuah keluarga.  Dalam hal ini adanya pembentukan dan penguatan forum yang didalamnya ada pemetaan lembaga, membuat kesepakatan, membagi peran, menetapkan mekanisme kerja, serta dukungan kesekretariatan. Adanya kerjasama mekanisme dan pelaksanaan rujukan, penguatan kelembagaan dan program, penguatan kapasitas SDM, dan dukungan pembiayaan sangat penting memperkuat form. Perlunya membuat form dari FPK2PA DIY hingga kini menjadi FPKK DIY adalah menjamin terselenggaranya perlindungan dan pelayanan terpadu dan ada mekanisme yang jelas mengenai penyelenggaraan pelayanan terpadu. Tujuannya untuk memberikan pelayanan penanganan KTPA, memberikan perlindungan KTPA, melakukan upaya pencegahan secara bergotong royong, serta menumbuhkan partisipasi masyarakat agar mempunya keperdulian dan kepekaan terhadap perempuan dan anak sebagai korban kekerasan.

Narasumber berikutnya ada bapak perwakilan dari KEMENAD yang akan menyampaikan peran KEMENAD dan tokoh agama dalam upaya pembangunan ketahanan keluarga. Adanya 8 ketahanan dalam fungsi keluarga, pertama sikap religiusitas, cinta kasih, fungsi sosial dan pendidikan, fungsi reproduksi, fungsi lingkungan, dan fungsi lainnya. Pemerintah dalam kasus ini belum ada proses dalam menghendel kekerasan pada perempuan dan anak. Dalam hal ini juga dilakukan bimbingan perkawinan bagi pasangan muda yang bertujuan agar memberikan penjelasan lebih dalam tentang perkawinan, sehingga dalam memberikan bimbingan ini dapat mengurangi perceraian yang ada di Indonesia.

Narasumber terakhir ada bapak Nur Hashim yang mengurus Rifka Annisa dan salah satu pendiri alias laki-laki baru yang mengembangkan strategi baru yang melibatan laki-laki dalam kasus perempuan dan anak. Laki-laki sering disebut sebagai pelaku kekerasan terhadap perempuan, sehingga laki-laki menjadi infisible atau tersembunyi. Seorang laki-laki tidak dilahirkan menjadi pelaku kekerasan, melainkan untuk belajar melakukan kekerasan. Peran laki-laki sangat penting bagi sebuah keluarga, terutama bagi seorang anak. Kehadiran seorang laki-laki atau ayah dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak, anak yang sedang tumbuh anak merasa sangat dekat dengan ayahnya dan cara anak mengingat ayahnya ditentukan oleh cara ayang memperlakukan mereka. Dalam mengatasi adanya kekerasan terhadap perempuan, maka diadakan konseling yang akan dibagi kebeberapa kelas. Di dalamnya akan di ajarkan menjadi seorang laki-laki yang baik dan lebih menghargai seorang perempuan, ada sebagian laki-laki yang melakukan gerakan dalam menolak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tujuannya agar banyak laki-laki yang tidak setuju dengan adanya kekerasan perempuan yang dilakukan oleh laki-laki.

 

Share On:

0 Comments di post ini

Leave a Comment

Rakosa Radio

Jln Pandega Sakti No. 8 ( Kali Urang KM 6 ) Sleman Yogyakarta

0274.888801

info@rakosa-fm.co.id

@Website Radio Rakosa FM